Desa Demakan secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo bagian Utara, desa ini cukup terkenal dengan daerah pertanian dan home industry pengrajin genteng. Sejarah berdirinya Desa Demakan menurut para tokoh masyarakat tidak terlepas dengan sejarah sendang panguripan Kyai Anggaspati yang terletak di Dukuh Ganggasan Desa Demakan. Mengulik kisah masa lalu pada jaman dahulu ada sepasang pengembara suami istri dari Kerajaan Majapahit. Pada kedua orang tersebut umurnya sudah tua berpenampilan biasa dan tidak terlalu mencolok, tetapi warga curiga dengan gaya penampilan yang bersih, rapi, pendiam, ramah, dan sopan. Hingga akhirnya warga mengetahui bahwa orang tersebut bukan pengembara biasa karena terlihat dari penampilan dan gaya bicaranya halus penuh wibawa dan suka menolong sesama dan tidak sombong. Tidak hanya itu, beliau memiliki kelebihan yang disegani warga disekitar karena dapat membantu menyembuhkan orang sakit dan tidak pernah minta imbalan apapun. Pengembara tersebut menjadi pengaruh besar dan dikenang oleh masyarakat desa hal ini dapat memicu potensi di Desa Demakan hingga menjadi desa yang besar dan cukup dikenal.
Asal usul penamaan Demakan ini dikisahkan pada zaman dahulu ada seorang pengembara yang bernama Eyang Kaneko Nurodo yang merupakan keturunan abdi dalem kerabat Keraton Mojopahit, Eyang ini aktif bekontribusi membantu warga saat bertani dan berkebun, di sela-sela kesibukannya di rumah beliau punya kesenangan beternak unggas, salah satunya burung puyuh dikenal dengan istilah Manuk Gemak. Seiring berjalannya waktu ternak dapat berkembang dengan baik dan hasilnya dapat bermanfaat untuk warga sekitarnya bagi yang membutuhkan, sehingga warga selalu memanggil beliau dengan julukan nama Eyang Demak. Seiring perkembangan waktu desa ini cukup besar hingga orang menyebut desa ini adalah Desa Demakan dan terkenal sampai sekarang. Makam Eyang Kaneko Nurodo (Mbah Gemak) beserta istrinya (Eyang Demak) masih ada di kampung Desa Demakan yang masih terawat dengan baik.